ini adalah tempat dimana kita bisa berbagi bersama sesuatu hal yang bernama sebuah pengalaman. agar kita bisa saling menguntungkan antar sesama manusia. saling bercerita dan memcahkan suatu problematika di tempat kita hidup. meski kadang tak seperti yang kita harapkan, namun pasti ada jalan untuk sebuah kebaikan.
Ketidak sempurnaan sebuah kata
Sebuah ucapan yang kadang keluar dari mulut kita tak selalu baik apa adanya, tapi kadang kita lupa, kata kata yang kotor pun terlontar dari mulut kita, dalam hati kita tau bahwa itu merupakan suatu hal yang tidak baik, tapi di sisi lain kita hanya mengabaikannya, menganggap sebuah kekhilafan atau kekeliriuan yang tidak kita sengaja. Namun tanpa kita sadari, melalui sebuah kata kita bisa menyakiti perasaan seseorang. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa setiap kata yang keluar dari mulut kita merupakan cerminan dari diri kita sendiri, ketidak sempurnaan kita di dalam berinteraksi.
Rabu, 19 Oktober 2011
What is Noun, Verbs and Adverbs ???
1.1 Noun
The words noun comes from the Latin words nomen meaning "name". Noun are the names of places, things and ideas. Anything we can imagine has a name. If someone discovers a person, places, things or ideas without a name, you can be sure that steps will be taken to remedy that situation.
2.1 Kinds of Noun
Noun can also be Concrete and Abstract
Example:
Example:
Verbs are the life of language, beacase of them, our words take action and we are able ti express who we are and how we feel. Without verbs, speechs and writing would be reduced to trivial naming and static description. Verb are beyond compare
2.2 Kinds of Verbs
There are 2 kinds of verb, Transitive Verbs and Intransitive Verbs
Example:
Example:
Adverbs derived from the words add to the meaning of the verbs. Adverbs later developed into more widespread, not only describes a verb, adjective but also explains the other. In other words adverbs are adverbs that describe how, when or where a job, so that events and actions performed or happen.
2.3 Kinds of Adverbs
There are 3 kinds of Adverbs: Adverbs of place, Adverbs of TIme and Adverbs of Manners
Example:
Example:
Example:
The words noun comes from the Latin words nomen meaning "name". Noun are the names of places, things and ideas. Anything we can imagine has a name. If someone discovers a person, places, things or ideas without a name, you can be sure that steps will be taken to remedy that situation.
2.1 Kinds of Noun
Noun can also be Concrete and Abstract
- Concrete Noun
Example:
- The house is very big
- I dont have a typewriter
- This is my computer
- My Brother buys a black shoes
- I take my bag
- Abstract Noun
Example:
- I look some advertisement in TV
- The internet conection is bad
- That is the government wisdom
- I need your attendance
- All of us has a inner beauty
Verbs are the life of language, beacase of them, our words take action and we are able ti express who we are and how we feel. Without verbs, speechs and writing would be reduced to trivial naming and static description. Verb are beyond compare
2.2 Kinds of Verbs
There are 2 kinds of verb, Transitive Verbs and Intransitive Verbs
- Transitive Verbs
Example:
- She made a cake
- I bought a car
- She will see the fashion contests
- The fish need water
- He kick the ball
- Intransitive Verbs
Example:
- She is crying
- He sleeps
- My Brother are reading
- The plane is taking off
- The train is arrived
Adverbs derived from the words add to the meaning of the verbs. Adverbs later developed into more widespread, not only describes a verb, adjective but also explains the other. In other words adverbs are adverbs that describe how, when or where a job, so that events and actions performed or happen.
2.3 Kinds of Adverbs
There are 3 kinds of Adverbs: Adverbs of place, Adverbs of TIme and Adverbs of Manners
- Adverbs of Place
Example:
- Margaretta looked everywhere
- He studies English here
- John is upstairs
- I saw her there
- They move along
- Adverbs of Time
Example:
- I am studying English now
- He never knew that before
- She will finish her work soon
- Sunny came here yesterday
- We have a party tonight
- Adverbs of Manners
Example:
- They worked hard
- She writes a letters neatly
- I speaks English well
- He running fast
- My Father drived the car carefully
Senin, 10 Oktober 2011
Tugas Structure Sentence Pattern Pak Abdillah
1.S+V (intransitif)
- The baby is sleeping
- The visitors left
- The train has arrived
- The plane is taking off
- The convict collapsed
2.S+V+DO (transitif)
My friend sent some postcard - My father give some money
- We borrow some book
- She plays a doll
- He eat a bread
- The boy threw the dog a stone
- My mother gave me some candy
- He brought a computer for me
- The teacher give us some homework
- My friend borrow me some money
- I am glad
- We are in the internet cafe
- The new car is expensive
- He is sad
- My Father was have a accident
Minggu, 02 Oktober 2011
Sebuah Salam
Tempat yang tepat untuk berbagi pengalaman bagi semua kalangan yang kecanduan dalam dunia internet dan berorientasi di dalam hal kebaikan, dan sesalu berfikir positif untuk maju, gemar bersosialisasi dan berpikiran kritis terhadap semua hal yang terjadi disekitarnya
Halaman Wacana
Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial-bermasalah. Memang Ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.
Berdasarkan hasil penelitian yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial. Keempat faktor tersebut adalah:
1) Sikap terhadap peluang
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan? Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Sebaliknya, kelompok Orang yang sial memiliki perasaan dan sikap yang lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
2) Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika.
Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “good feeling”. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.
3) Selalu berharap kebaikan akan datang..
Orang yang beruntung ternyata selalu bersikap positif terhadap kehidupan. Berprasangka dengan optimis bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain.
4) Mengubah hal yang buruk menjadi baik
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.
Berdasarkan hasil penelitian yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial. Keempat faktor tersebut adalah:
1) Sikap terhadap peluang
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan? Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Sebaliknya, kelompok Orang yang sial memiliki perasaan dan sikap yang lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
2) Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika.
Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “good feeling”. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.
3) Selalu berharap kebaikan akan datang..
Orang yang beruntung ternyata selalu bersikap positif terhadap kehidupan. Berprasangka dengan optimis bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain.
4) Mengubah hal yang buruk menjadi baik
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.
Langganan:
Komentar (Atom)